Showing posts with label keperawatan. Show all posts
Showing posts with label keperawatan. Show all posts

Friday, September 30, 2011

KEPERAWATAN HOME CARE KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSARAFAN


BAB I
PENDAHULUAN
2.1    Latar Belakang
         Stroke masih merupakan penyebab utama invaliditas – kecacatan sehingga orang tergantung pada orang lain pada kelompok usia 45 tahun ke atas dan angka kematian yang diakibatkannya juga cukup tinggi. Banyak upaya, penelitian, yang telah dilakukan oleh para pakar dalam bidang stroke ini, bagaimana cara mencegahnya, bagaimana cara mencegah agar tidak berulang sekiranya seseorang pernah mendapat stroke, bagaimana mengurangi kerusakan atau kematian yang diakibatkannya sekiranya stroke terjadi, dan bagaimana mengoptimasi keadaan pasien yang telah dikurangi kemampuannya oleh stroke, melakukan rehabilitasi.
         Sebagian besar penderita stroke akan pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya sebagian kecil yang masih memerlukan perawatan secara tetap di rumah sakit dan penderita ini cenderung merupakan manula yang usianya amat lanjut atau orang-orang yang sebelum mengalami stroke sudah mempunyai permasalahan jasmani atau mental lainnya. Sebagai contoh, penderita yang sebelumnya sudah demensia tidak akan memperlihatkan banyak kemajuan bila terkena serangan stroke. Keluarga penderita yang tidak dapat dibawa pulang ini perlumemikirkan penitipan penderita panti jompo dengn bantuan dari para pekerja sosial. Kadang-kadang saja ada penderita stroke yang harus tinggal di rumah sakit dalam untuk jangka waktu yang lama.

GAYA BERJALAN, KELAINAN POSTUR DAN MASALAH GANGGUAN IMOBILISASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1        LATAR BELAKANG
               Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas, dan imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas. Mobilisasi dan imobilisasi berada pada rentang dengan banyak tingkatan imobilisasi parsial diantaranya. Beberapa klien mengalami kemunduran dan selanjutnya berada diantara rentang mobilisasi—imobilisasi, tetapi pada klien lain, berada pada kondisi imobilisasi mutlak dan berlanjut sampai jangka waktu tidak terbatas (Perry dan Potter, 1994).
               Dalam makalah ini akan dibahas tentang gaya berjalan, dan kelainan postur tubuh sebagaimana hal ini dipengaruhi oleh kedua faktor yang telah disebutkan diatas yaitu mobilisasi dan imobilisasi

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CVP


BAB I
PENDAHULUAN
2.1  Pengertian
           Tekanan vena central (central venous pressure) adalah tekanan darah di atrium kanan atau vena kava. Ini memberikan informasi tentang tiga parameter volume darah, keefektifan jantung sebagai pompa, dan tonus vaskular. Tekanan vena central dibedakan dari tekanan vena perifer, yang dapat merefleksikan hanya tekanan lokal.

FISIOTERAPI DADA dan POSTURAL DRAINASE


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
         Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan.
         Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari.
         PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.

1.2     Tujuan
         Diharapkan mahasiswa mampu untuk melaksanakan fisioterapi dada dan postural drainase pada pasien khususnya mengalami obstruksi pernapasan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Definisi Fisioterapi Dada
         Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan.
         Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu.

2.2   Tujuan FTD
Tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah:
1.      Mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan
2.      Membantu membersihkan sekret dari bronkus
3.      Untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran sekret
4.      Meningkatkan efisiensi pernapasan dan ekspansi paru
5.      Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup
6.      Mengeluarkan secret dari saluran pernapasan
         Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage, perkusi, dan vibrasi.
Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif, sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang.
Anatomi                                                          Percabangan Trakheobronkhial

Lobus Kanan Atas :
1.      segmen apical
2.      segmen posterior
3.      segmen anterior
Lobus Kanan Tengah :
1.      segmen lateral
2.      segmen medial
Lobus Kanan Bawah :
1.      segmen superior
2.      segmen basal anterior
3.      segmen basal lateral
4.      segmen basal posterior
5.      segmen basal medial


2.3   Teknik FTD
A.     Drainase Postural
    Merupakan cara klasik untuk mengeluarkan secret dari paru dengan mempergunakan gaya berat (gravitasi) dari secret. Pembersihan dengan cara ini dicapai dengan melakukan salah satu atau lebih dari 11 posisi tubuh yang berbeda. Setiap posisi mengalirkan secret dari pohon trakheobronkhial ke dalam trachea. Batuk penghisapan kemudian dapat membuang secret dari trachea. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak drainase postural lebih efektif bila disertai dengan perkusi dan vibrasi dada.

Indikasi Klien Yang Mendapat Drainase Postural
a)      Mencegah penumpukan secret yaitu pada:
·        Pasien yang memakai ventilasi
·        Pasien yang melakukan tirah baring yang lama
·        Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik, bronkiektasis
b)      Mobilisasi secret yang tertahan :
·        Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret
·        Pasien dengan abses paru
·        Pasien dengan pneumonia
·        Pasien pre dan post operatif
·        Pasien neurology dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk

Kontra Indikasi Drainase Postural
a)      Tension pneumothoraks
b)      Hemoptisis
c)      Gangguan system kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infarkniokard, aritmia
d)      Edema paru
e)      Efusi pleura
f)        Tekanan tinggi intracranial

Persiapan Pasien Untuk Drainase Dostural
a)      Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pnggang
b)      Terangkan cara pelaksanaan kepada klien secara ringkas tetapi lengkap
c)      Periksa nadi dan tekanan darah
d)      Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan secret.

Cara Melakukan Drainase Postural
a)      Dilakukan sebelum makan untuk mencegah mual muntah dan menjelang tidur malam untuk meningkatkan kenyamanan tidur.
b)      Dapat dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 -60 menit, tiap satu posisi 3-10 menit
c)      Posisi drainase postural dilihat pada gambar
Evaluasi Setelah Dilakukan Drainase Postural
a)      Auskultasi : suara pernapasan meningkat dan sama kiri dan kanan
b)      Inspeksi : dada kanan dan kiri bergerak bersama-sama
c)      Batuk produktif (secret kental/encer)
d)      Perasaan klien mengenai darinase postural (sakit, lelah, lebih nyaman)
e)      Efek drainase postural terhadap tanda vital (Tekanan darah, nadi, respirasi, temperature)
f)        Rontgen thorax

Drainase postural dapat dihentikan bila:
a)      Suara pernapasan normal atau tidak terdengar ronchi
b)      Klien mampu bernapas secara efektif
c)      Hasil roentgen tidak terdapat penumpukan sekret

B.     Clapping/Perkusi
    Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk kedua tangan deperti mangkok.
lndikasi untuk perkusi :
Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi.

Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan :
1. Patah tulang rusuk
2. Emfisema subkutan daerah leher dan dada
3. Skin graf yang baru
4. Luka bakar, infeksi kulit
5. Emboli paru
6. Pneumotoraks tension yang tidak diobati
Alat dan bahan :
1) Handuk kecil
Prosedur kerja :
1)  Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan
2)  Anjurkan pasien untuk rileks, napas dalam dengan Purse lips breathing
3)  Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok
    Kecepatan dari perkusi masih kontroversi, sebagian mengatakan bahwa teknik yang cepat lebih efektif, tetapi ada yang mengatakan bahwa teknik yang lambat lebih santai sehingga klien lebih suka yang lambat.
Hindari daerah-daerah klavikula, sternum, scapula, vertebra, ginjal, limpa.

C.     Vibrating
         Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar.
Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis.
Prosedur kerja :
1)      Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar
2)      Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing
3)      Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi
4)      Istirahatkan pasien
5)      Ulangi vibrasi hingga 3X, minta pasien untuk batuk

BAB III
PEMBAHASAN

3.1     Kesimpulan
         Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu.
Terdapat 3 kategori posisi dalam pelaksanaan postural drainage, yaitu :
1. Posisi yang mendrainase segmen atas atau lobus atas paru.
2. Posisi yang mendrainase segmen tengah paru (hanya pada paru kanan).
3. Posisi yang mendrainase segmen basal paru atau lobus bawah.

3.2     Saran
         Saran yang membangun sangat kami perlukan dari para pembaca demi kelancaran dan perbaikan dalam pembuatan makalah yang berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Fitri, luchi nur.2009. http://luchinurfitri.blog.friendster.com/2009/01/fisioterapi-dada/ .diakses pada 04 Juli 2009, 19.15
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC

Thursday, September 8, 2011

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA WAHAM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin “aneh” (misal, mata saya adalah komputer yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula “tidak aneh” hanya sangat tidak mungkin, misal, “FBI mengikuti saya”) dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia. semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham disorganisasi dan waham tidak sistematis.
Pasien ini tidak memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang perfasif seperti yang ditemukan pada kondisi psikotik lain. tidak ada afek datar atau afek tidak serasi, halusinasi yang menonjol, atau waham aneh yang nyata. pasien memiliki satu atau beberapa waham, sering berupa waham kejar, dan ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham kebesaran, somatik, atau eretomania.
Pasien – pasien ini (cenderung berusia 40 -an) mungkin tidak dapat dikenali sampai sistem waham mereka disadari oleh keluarga atau teman – temannya. Diagnosis mungkin sulit karena pasien sangat tidak percaya pada pemeriksa dan tidak mencari pengobatan secara sukarela. mereka sering sangat sensitif, argumentatif. meskipun ia dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan dalam hal – hal di luar waham mereka, ia cenderung mengalami isolasi sosial baik karena keinginan mereka sendiria tau akibat ketidakramahan mereka (misal, pasangannya sering mengabaikan mereka). Apabila terdapat disfungsi pekerjaan dan sosial, biasanya hal ini merupakan respon langsung terhadap waham mereka.
Kondisi ini sering tampak membentuk kesinambungan klinis dengan kondisi seperti kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid, penggambaran mengenai batas – batas setiap sindrom menunggu penelitian lebih lanjut. Singkirkan gangguan afektif, ide – ide paranoid dan cemburu sering terdapat pada depresi. paranoid sering terdapat pada orang tua dan pada orang yang menyalahgunakan zat stimulan. reaksi paranoid akut sering ditemui pada pasien dengan delirium ringan dan pasien yang harus berada ditempat tidur karena sakit (dan sensorisnya terganggu). Saat ini, kebermaknaan keadaan keluarga seperti ini sebagai etiologi belum pasti. mekanisme pertahanan spesifik yang digunakan oleh pasien biasanya penyangkalan, proyeksi, dan regresi.

1.2 Tujuan
Pembuatan makalah bertujuan agar mahasiswa keperawatan mengerti mengenai waham dan juga cara membuat asuhan keperawatan sebagai panduan dalam melakukan praktik klinik keperawatan jiwa di rumah sakit.

Saturday, August 27, 2011

T R I A G E

Pengertian  : Pemilahan / seleksi terhadap pasien menurut tingkat

                     kegawatan / prioritas kegawatan baik karena trauma atau
                       suatu penyakit.

Dasar Pemilihan :
·        Kondisi atau keluhan pasien
·        Riwayat penyakit
·        Gejala atau tanda
·        Pemeriksaan fisik

Katagori Pemilihan :
·        Non Urgent :
Pasien tidak harus segera mendapatkan tindakan pemeriksaan
( masih bisa menunggu )
·        Urgent :
Pasien harus diperiksa dengan segera dan harus dievaluasi selama menunggu pemeriksaan .
·        Emergent :
Pasien harus segera dilakukan tindakan tanpa menunggu waktu
karena bisa mengancam jiwa / kecacatan bila tidak segera
dilakukan tindakan .

OBAT ANTAGONIS ADRENORESEPTOR a



Definisi
OBAT ANTAGONIS ADRENORESEPTOR a disebut juga penghambat neuron adrenergik a atau sering disebut penghambat a adalah obat-obatan yang menekan simpatetik atau simpatolitik.

Kerja obat

1.       Memblok reseptor adrenergik  a1 sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah baik arteri ataupun vena. Akibat dialatasi tersebut, tahanan perifer berkurang sehingga menurunkan tekanan darah. Darah akan lebih mudah dan lebioh banyak yang masuk ke jaringan tubuh sehingga ferfusi jaringan akan membaik karena tercukupinya suplai oksigen dan nutrisi.
2.       Menghambat pelepasan norepinefrin dari neuro terminal simapatis atau disebut dengan penghambat neuron adrenergik. Obat jenis ini diklasifikasikan sebagai  subdivisi dari penghambat a.


Indikasi
1.       Hipertensi dan krisis hipertensi
2.       Penyakit pembuluh darah tepi terutama akibat spasmus seperti penyakit Raynaud.
3.       Syok dengan syarat tidak ada hipotensi dan ditujukan untuk sesegera mungkin memperbaiki perfusi jaringan dengan suplai oksigen dan nutrisi.


Monday, August 1, 2011

BIOAKUSTIK DALAM KEPERAWATAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Gelombang bunyi timbul akibat terjadi perubahan mekanik pada zat gas, zat cair atau zat padat yang merambat ke depan dengan kecepatan tertentu. Gelombang bunyi merupakan vibrasi atau getaran dari molekul – molekul zat dan saling beradu satu sama lain dimana zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi tanpa disertai perpindahan partikel. Gelombang bunyi dapat menjalar secara transversal atau longitudinal.
Bunyi berhubungan dengan indra pendengaran yaitu fisiologi telinga. Telinga berfungsi secara efisien untuk mengubah energi getaran dari gelombang menjadi sinyal listrik yang dibawa ke otak melalui syaraf. Telinga manusia merupakan detektor bunyi yang sangat sensitif.
 Bising didefinisikan sebagai bunyi yang kehadirannya tidak dikehendaki dan dianggap mengganggu pendengaran. Bising dapat berasal dari bunyi atau suara yang merupakan aktivitas alam seperti bicara, pidato, tertawa dan lain – lain. Bising juga dapat berasal dari bunyi atau suara buatan manusia seperti bunyi mesin kendaraan dan mesin – mesin yang ada di pabrik. Untuk menilai bunyi sebagai bising sangatlah relatif. Misalnya musik di tempat – tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidaklah merasa suatu kebisingan, tetapi bagi orang – orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang mengganggu.

Sunday, July 31, 2011

ASKEP HIPOGLIKEMI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
          Hipoglikemia (kadar glukosa darah yang abnormal-rendah) terjadi kalau kadar glukosa turun di bawah 50 hingga 60 mg/dl (2,7 hingga 3,3mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Pada hipoglikemia berat (kadar glukosa darah hingga di bawah 10 mg/dl), dapat terjadi serangan kejang bahkan dapat terjadi koma (koma hipoglikemik)
          Pada sebagian besar kasus koma hipoglikemik yang ditemukan di tempat pelayanan kesehatan umum (klinik/RS) penyebab utamanya adalah karena terapi pemberian insulin pada pasien penderita diabetes mellitus. Pada penelitian survey yang dilakukan oleh Department of Neurology and Neurological Sciences, and Program in Neurosciences, Stanford University School of Medicine,terdapat setidaknya 93,2% penyebab masuknya seseorang dengan gejala koma hipoglikemik adalah mereka yang menderita diabetes mellitus dan telah menjalani terapi pemberian insulin pada rentang waktu sekitar 1,5 tahunan.



ASKEP IBU HAMIL TRIMESTER KEDUA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ibu hamil trimester kedua yakni msa kehamilan pada minggu ke-14 sampai dengan minggu ke-24 kehamilan. Pada trimester kedua ini kehamilan biasanya sudah tampak jelas, ibu hamil dan keluarganya sudah mengatur waktunya untuk kehamilan. Sebagian besar ibu hamil pada trimester kedu ini tidak memiliki permasalahan yang serius. Namun tidak sedikit ibu hamil pada masa ini ketika memeriksakan kehmilannya mengeluhkan ketidaknyamanan. Kebanyakan dari keluhan ini adalah ketidaknyamanan normal dan merupakan bgin dari perubahan yang terjadi pada tubuh dan emosional ibu selama kehamilan. Adalah penting bagi seorang perawat untuk membedakan antara ketidaknyamanan normal dengan tanda-tanda bahaya.
Walaupun ketidaknyamanan yang umum dalam kehamilan trimester kedu ini tidak mengancam keselamatan jiwa, namun hal tersebut bisa sangat menjemukan dan menyulitkan bagi ibu. Perawat harus mendengarkan ibu, membicarakan tentang berbgai macam keluhannya dan membantu mencari cara untuk mengatasinya. Untuk itu diperlukan asuhan keperawatan yang tepat oleh seorang  perawat agar ibu hamil pada trimester kedu ini dapat menikmati kehamilannya.

ASMA DALAM KEHAMILAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Asma yang terkendali dengan baik tidak memiliki efek yang berarti pada wanita yang hamil, melahirkan ataupun menyusui. Asma mungkin membaik, memburuk atau tetap tidak berubah selama masa hamil, tetapi pada kebanyakan wanita gejala-gejalanya cenderung meningkat selama tiga bulan terakhir dari masa kehamilan. Dengan bertumbuhnya bayi dan membesarnya rahim, sebagian wanita mungkin mengalami semakin sering kehabisan nafas. Tetapi ibu-ibu yang tidak menderita asmapun mengalami hal tersebut karena gerakan diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas. Adalah penting untuk memiliki sebuah rancang tindak asma dan ini harus ditinjau kembali secara teratur selama masa kehamilan.
Dokter spesialis kebidanan perlu diberitahu bila si pasien meminum obat cortisone. Bagi wanita yang mengalami serangan asma yang dahsyat atau tidak stabil meskipun sudah diadakan pengendalian asma yang terbaik, rancang tindak mereka harus meliputi apa yang harus dilakukan ketika melahirkan, termasuk pilihan-pilihan jika dilakukan pembiusan. Hal ini harus diatur dengan konsultasi antara sang ibu, dokter kebidanan dan dokter ahli. Asma yang tidak dikendalikan ada hubungannya dengan sedikit meningkatnya kelahiran bayi yang berat badannya rendah dan terjadinya kelahiran sebelum waktunya.


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN LABIOPALATOSKISIS

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
           Menurut laporan peneliti dari berbagai negara, cacat labio palatoschizis dapat muncul dari 1 : 800 sampai 1 : 2000 kelahiran. Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, tentu mempunyai dan akan mempunyai banyak kasus labio palatoschizis.
           Labio palatoschizis merupakan kelainan bibir dan langit – langit, hal ini biasanya   disebabkan karena perkembangan bibir dan langit – langit yang tidak dapat berkembang secara sempurna pada masa  pertumbuhan di dalam kandungan. Dimana biasanya penderita labio palatoschizis mempunyai bentuk wajah kurang normal dan kurang jelas dalam berbicara sehingga menghambat masa persiapan sekolahnya.
           Labio palatoschizis sering dijumpai pada anak laki – laki dibandingkan anak perempuan (Randwick, 2002) kelainan ini merupakan kelainan yang disebabkan faktor herediter, lingkungan, trauma, virus (Sjamsul Hidayat, 1997).
           Kelainan ini dapat dilihat ketika bayi berada di dalam kandungan, melalui alat yang disebut USG atau Ultrasonografi. Setelah bayi lahir kelainan ini tampak jelas pada bibir dan langit –langitnya.


ASKEP GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER


A.     Pengkajian
1.      Riwayat Kesehatan/Keperawatan
Keluhan Utama :
§      Nyeri dada
§      Sesak nafas
§      Edema
2.      Riwayat Kesehatan
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.
§     Nyeri à lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, factor yang memperberat/memperingan, tipe nyeri.
§     Integritas neurovaskuler à mengalami panas, mati rasa, dan perasaan geli.
§     Status pernafasan à sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe, paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.
§     Gangguan sirkulasi à peningkatan berat badan, perdarahan, pasien sudah lelah.
§     Riwayat kesehatan sebelumnya à penyekit yang pernah diderita, obat-obat yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.
§     Kebiasaan pasien à diet, latihan, merokok dan minuman.