Thursday, September 8, 2011

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA WAHAM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin “aneh” (misal, mata saya adalah komputer yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula “tidak aneh” hanya sangat tidak mungkin, misal, “FBI mengikuti saya”) dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia. semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham disorganisasi dan waham tidak sistematis.
Pasien ini tidak memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang perfasif seperti yang ditemukan pada kondisi psikotik lain. tidak ada afek datar atau afek tidak serasi, halusinasi yang menonjol, atau waham aneh yang nyata. pasien memiliki satu atau beberapa waham, sering berupa waham kejar, dan ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham kebesaran, somatik, atau eretomania.
Pasien – pasien ini (cenderung berusia 40 -an) mungkin tidak dapat dikenali sampai sistem waham mereka disadari oleh keluarga atau teman – temannya. Diagnosis mungkin sulit karena pasien sangat tidak percaya pada pemeriksa dan tidak mencari pengobatan secara sukarela. mereka sering sangat sensitif, argumentatif. meskipun ia dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan dalam hal – hal di luar waham mereka, ia cenderung mengalami isolasi sosial baik karena keinginan mereka sendiria tau akibat ketidakramahan mereka (misal, pasangannya sering mengabaikan mereka). Apabila terdapat disfungsi pekerjaan dan sosial, biasanya hal ini merupakan respon langsung terhadap waham mereka.
Kondisi ini sering tampak membentuk kesinambungan klinis dengan kondisi seperti kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid, penggambaran mengenai batas – batas setiap sindrom menunggu penelitian lebih lanjut. Singkirkan gangguan afektif, ide – ide paranoid dan cemburu sering terdapat pada depresi. paranoid sering terdapat pada orang tua dan pada orang yang menyalahgunakan zat stimulan. reaksi paranoid akut sering ditemui pada pasien dengan delirium ringan dan pasien yang harus berada ditempat tidur karena sakit (dan sensorisnya terganggu). Saat ini, kebermaknaan keadaan keluarga seperti ini sebagai etiologi belum pasti. mekanisme pertahanan spesifik yang digunakan oleh pasien biasanya penyangkalan, proyeksi, dan regresi.

1.2 Tujuan
Pembuatan makalah bertujuan agar mahasiswa keperawatan mengerti mengenai waham dan juga cara membuat asuhan keperawatan sebagai panduan dalam melakukan praktik klinik keperawatan jiwa di rumah sakit.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat, 2006: 147)
2.2 Penyebab
Berbagai kehilangan dapat terjadi pada pasca bencana, baik kehilangan harta benda, keluarga maupun orang yang bermakna. Kehilangan ini menyebabkan stress bagi mereka yang mengalaminya. Jika stress ini berkepanjangan dapat memicu masalah gangguan jiwa dan waham. (Budi Anna Keliat, 2006: 147)
2.3 Tanda dan Gejala
a) Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
b) Klien tampak tidak mempunyai orang lain
c) Curiga
d) Bermusuhan
e) Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
f) Takut, sangat waspada
g) Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
h) Ekspresi wajah tegang
i) Mudah tersinggung (Azis R dkk, 2003)
2.4 Jenis Waham
Tanda dan gejala waham berdasarkan jenisnya meliputi :
a) Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya ini pejabat di separtemen kesehatan lho!” atau, “Saya punya tambang emas.”
b) Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
c) Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Kalau saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.”
d) Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, “Saya sakit kanker.” (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit kanker).
e) Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, ”Ini kan alam kubur ya, sewmua yang ada disini adalah roh-roh”.


BAB III
DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Selama pengkajian, perawat harus mendengarkan, memerhatikan, dan mendokumentasikan semua informasi, baik melalui wawancara maupun observasi yang diberikan oleh pasien tentang wahamnya. Berikut merupakan beberapa contoh pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien waham: (Budi Anna Keliat, 153)
1. Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan menetap?
2. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh dan tidak nyata?
4. Apakah pasien pernah merasakan bahwaia berada di luar tubuhnya?
5. Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6. Apakah pasien merasa bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau kekuatan dari luar?
7. Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya atau yakn bahwa orang lain bisa membaca pikirannya?
Berikut ini format dokumentasi pengkajian dari diagnosis keparawatan waham:
Berikan tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan data pada pasien

1. Proses Pikir


[ ] Sirkumstansial
[ ] Tangensial

[ ] Flight of ideas
[ ] Bloking

[ ] Kehilangan asosiasi
[ ] Pengulangan Bicara
2. Isi Pikir


[ ] Obsesi
[ ] Fobia

[ ] Depersonalisasi
[ ] Ide terkait

[ ] Hipokondria
[ ] Pikiran magis
3. Proses Pikir


[ ] Agama
[ ] Somatik
[ ] Kebesaran
[ ] Curiga

[ ] Nihilistik
[ ] Sisip Pikir
[ ] Siar Pikir
[ ] Kontrol Pikir







3.2 Diagnosis Keperawatan
Perilaku Kekerasan
Gangguan Proses Pikir: Waham
Gangguan konsep diri : Kehilangan, harga diri rendah
Setelah pengkajian dilakukan dan data subjektif maupun objektif ditemukan pada pasien, diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah gangguan proses pikir: Waham (Budi Anna Keliat, 2006).
3.3 Tindakan Keperawatan
Selanjutnya, setelah diagnosis ditegakkan, perawat melakukan tindakan keperawatan bukan hanya kepada pasien, tetapi juga pada keluarga. Tindakan tersebut meliputi:
3.3.1 Tindakan Keperawatan pada Pasien
A. Tujuan Tindakan Keperawatan pada Pasien:
1. Pasien dapat berorientasi pada realitas secara bertahap
2. Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
3. Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
4. Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
B. Tindakan Keperawatan
1) Membina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien waham perawat harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat. Tindakan yang harus perawat lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya, yaitu:
a. Mengucapkan salam terapeutik
b. Berjabat tangan
c. Menjelaskan tujuan interaksi
d. Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien
2) Membantu orientasi realitas
a. Tidak mendukung atau membantah waham pasien
b. Meyakinkan pasien berada dalam keadaan aman
c. Mengobservasi pengaruh waham pada aktivitas sehari-hari
d. Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya, dengarkan tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya.
e. Memberikan pujian jika penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas
3) Mendiskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
4) Meningkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pasien
5) Mendiskusikan tentang kemampuan positif yang dimiliki
6) Membantu melakukan kemampuan yang dimiliki
7) Mendiskusikan tentang obat yang diminum
8) Melatih minum onat yang benar
SP1 Pasien: Membina hubungan saling percaya; Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraltikkan pemenuhuan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Contoh Komunikasi:
Orientasi
”Selamat pagi, perkenalkan nama saya A, saya perawat yang dinas di ruang Melati. Saya dinas dari jam 7 sampai jam 2 siang nanti, saya akan merawat anda hari ini. Nama anda siapa, senang dipanggil apa?”
”Boleh kita berbincang-bincang tantang apa yang B rasakan sekarang?”
”Berapa lama B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit?”
”Di mana enaknya kita berbincang-bincang, B?”
Kerja
”Saya mengerti B merasa bahwa B adalah seorang nabi, tetapi sulit bagi saya untuk memercayainya karena setahu saya semua nabi sudah tidak ada lagi. Bisa kita lanjutkan pembicaraan yang tadi putus B?”
”Tampaknya B gelisah sekali, bisa B ceritakan apa yang B rasakan?”
”O... jadi B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk mengatur diri B sendiri?”
”Siapa menurut B yang sering mengatur-atur diri B?”
”Jadi, ibu yang terlalu mengatur-atur ya B, juga kakak dan adik B yang lain?”
”Kalu B sendiri, inginnya seperti apa?”
”Bagus, B sudah punya rencana dan jadwal untuk diri sendiri!”
”Coba kita tuliskan rencana dan jadwal tersebut B!”
”Wah bagus sekali! Jadi setiap harinya B ingin ada kegiatan diluar rumah karena bosan selalu dirumah terus ya?”
Terminasi
”Bagaimana perasaan B setelah berbincang-bincang dengan saya?”
”Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus!”
”Bagaimana kalau jadwal ini coba B lakukan, setuju?”
”Bagaimana kalau saya datang kembali dua jam lagi?”
”Kalu kita bercakap-cakap tantang kemampuan yang pernah B miliki?”
”Mau dimana kita bercakap-cakap?”
”Bagaimana kalau di sini lagi?”

SP2 Pasien: Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu mempraktikkannya
Contoh Komunikasi:
Orientasi
”Selamat pagi B, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus!”
”Apakah B sudah mengingat-ingat apa saja hobi B?”
”Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
”Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi B tersebut?”
”Berapa lama B mau kita berbicang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?”
Kerja
”Apa saja hobi B? Saya catat ya B, terus apa lagi?”
”Wah, rupanya B pandai main bola voli ya, tidak semua orang bisa bermain bola voli seperti itu lho B.”
”Dapatkah B ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main voli, siapa yang dulu mengajarkannya kepada B, diman?”
”Dapatkah B peragakan kepada saya bagaimana bermain voli yang baik itu?”
”Wah, baik sekali permainannya.”
”Coba kita buat jadwal untuk kemampuan B ini ya, berapa kali sehari/seminggu B mau bermain bola voli?”
”Apa yang B harapkan dari kemampuan bermain voli ini?”
”Ada tidak hobi B yang lain selain voli?”
Terminasi
”Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan kemampuan B?”
”Setelah ini, coba B lakukan latihan voli sesuai dengan jadwal yang telah kita buat ya!”
”Besok kita ketemu lagi ya B? Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja ya?”
”Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus B minum, setuju?”
SP3 Pasien: Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar.
Contoh Komunikasi:
Orientasi
”Selamat pagi B! Bagaimana B sudah coba latihan volinya? Bagus sekali!”
”Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu, bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang obat yang B minum?”
”Dimana kita mau berbicara?”
”Berapa lama B mau kita berbicara? Bagaimana kalau 30 menit?”
Kerja
”B, berapa macam obat yang diminum? Jam berapa saja obat diminum?”
”B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang. Obatnya ada tiga macam, yang berwarna orange namanya CPZ gunanya untuk menenangkan, yang berwarna putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang warna merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran tenang. Semua ini diminum 3 kali seahri jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Jika nanti setelah minum obat mulut B terasa kering, untuk membantu mengatasinya B bisa banyak minum dan mengisap-isap es batu. Sebelum minum obat ini, B mengecek dulu label di kotak obat apakah benar nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar!”
”Obat-oabt ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi, sebaiknya B tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum membicarakannya dengan dokter.”
Terminasi
”Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap tentang obat yang B minum?”
”Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
”Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan B. Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster.”
”Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya B!”
”B, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan. Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 pagi dan ditempat yang sama? Sampai besok!”
3.3.2 Tindakan Keperawatan pada Keluarga
A. Tujuan tindakan keperawatan pada keluarga:
1. Keluarga mampu mengidentifikasi waham pasien
2. Keluarga mampu memfasilitasi pasien untuk memenuhi kebutuhan yang dipenuhi oleh wahamnya
3. Keluarga mampu mempertahankan program pengobatan pasien secara optimal
B. Tindakan Keperawatan
a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga saat merawat pasien dirumah
b. Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien
c. Diskusikan dengan keluarga tentang:
1. Cara merawat pasien waham dirumah
2. Tindakan tindak lanjut dan pengobatan yang teratur
3. Lingkungan yang tepat untuk pasien
4. Obat pasien (nama obat, dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat)
5. Kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera
d. Berikan latihan kepada keluarga tentang cara merawat pasien waham
e. Menyusun rencana pulang pasien bersama keluarga
SP1 Keluarga: Membina hubungan saling percaya dengan keluarga; mengidentifikasi masalah; menjelaskan proses terjadinya masalah; dan membantu pasien untuk patuh minum obat.
Contoh Komunikasi:
Orientasi
”Selamat pagi Pak, Bu, perkenalkan nama saya A, saya perawat yang dinas di ruang ini. Saya yang merawat B selama ini. Nama Bapak dan Ibu siapa, senangya dipanggil apa?”
”Bagaimana kalau kita sekarang kita membicarakan tentan masalah B dan cara merawat B dirumah?”
”Dimana kita mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau kita diruang wawancara?”
”Berapa lama waktu Bapak dan Ibu?”
”Bagaimana kalau 30 Menit?”
Kerja
”Pak, Bu, apa masalah yang anda rasakan dalam merawat B? Tindakan apa saja yang sudah dilakukan di rumah?”
”Dalam mengahadapi sikap anak Bapak dan Ibu yang selalu mengaku sebagai nabi, tetapi nyatanya bukan nabi merupakan salah satu gangguan proses berpikir. Untuk itu, akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya. Setiap kali anak Bapak dan Ibu berkata bahwa ia seorang nabi, Bapak/Ibu dengan mengatakan pertama, ”Bapak/Ibu mengerti B merasa seorang nabi, tetapi sulit bagi Bapak/Ibu mempercayainya karena setahu Bapak/Ibu semua nabi sudah meninggal”, kedua, Bapak dan Ibu harus lebih sering memuji B jika ia melakukan hal-hal yang baik, dan ketiga hala-hala ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang berinteraksi dengan B. Bapak/Ibu dapat bercakap-cakap dengan B kebutuhan yang diinginkan B, misalnya dengan mengatakan, ”bapak/Ibu percaya B punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan pada Bapak/Ibu! B kan punya kemampuan...(kemampuan yang pernah dimiliki oleh anak).”
”Keempat, katakan, ”Bagaimana kalau dicoba lagi sekarang?” jika B mau mencoba, berikan pujian!”
”Pak, Bu, B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang. Obatnya ada tiga macam, yang berwarna orange namanya CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP gunanya supaya rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikirannya tenang semuanya harus diminum secara teratur 3 kali sehari jam 7 pagi, 1 siang, dan jam 7 malam, jangan dihentikan sebelum berkonsultasi dengan dokter karena dapat menyebabkan B kambuh kembali.” (Libatkan keluarga saat memberikan penjelasan tentang obat kepada pasien).
”B sudah mempunyai jadwal minum obat. Jika B minta obat sesuai jamnya, segera beri pujian!”
Terminasi
”Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat B dirumah?”
”Setelah ini coba Bapak dan Ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap kali berkunjung ke rumah sakit.”
”Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi Bapak dan Ibu datang kembali ke sini dan kita akan mencoba melakukan langsung cara merawat B sesuai dengan pembicaraan kita tadi.”
”Jam berapa Bapak dan Ibu bisa kemari? Baik saya tunggu, kita ketemu lagi ditempat ini ya Pak, Bu.”
SP2 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien
Orientasi
”Selamat pagi Pak, Bu, sesuai janji kita dua hari yang lalu kita sekarang bertemu lagi.”
”Bagaimana Pak, Bu, ada pertanyaan tentang cara merawat B yang kita bicarakan dua hari yang lalu?”
”Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya Pak, Bu? Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung ke B ya?”
”Berapa lama Bapak dan Ibu punya waktu?”
Kerja
”Sekarang anggap saya B yang sedang mengaku sebagai nabi, coba Bapak dan Ibu praktikkan cara bicara yang benar jika B sedang dalam keadaan yang seperti ini.”
”Bagus, betul begitu caranya!”
”Sekarang coba praktikkan cara memberi pujian pada kemampuan yang dimiliki B. Bagus!”
”Sekarang coba cara memotivasi B minum obat dan melakukan kegiatan positifnya sesuai jadwal?”
”Bagus sekali, ternyata Bapak dan Ibu sudah mengerti cara merawat B.”
”Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada B?”(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)
Terminasi
”Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu setelah kita berlatih cara merawat B?”
”Setelah ini, coba Bapak dan Ibu lakukanapa yang sudah dilatih tadi setiap kali Bapak dan Ibu membesuk B.”
”Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi Bapak dan Ibu datang kembali lagi kesini dan kita akan mencoba lagi cara merawat B sampai Bapak dan Ibu lancar melakukannya.”
”Pukul berapa Bapak dan Ibu kemari?”
”Baik saya tunggu, kita ketemu lagi ditempat ini ya Pak, Bu.”
SP3 Keluarga: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi
“Selamat pagi Pak, Bu, karena B sudah boleh pulang maka kita bicarakan jadwal B selam dirumah.”
”Bagaiman Pak, Bu, selama Bapak dan Ibu besuk apakah sudah terus dilatih cara merawat B?”
”Nah sekarang bagaimana jika kita bicarakan jadwal di rumah? Mari Bapak dan Ibu duduk disini!”
”Berapa lama Bapak dan Ibu punya waktu? Baik, 30 menit saja sebelum Bapak/Ibu menyelesaikan administrasi di depan.”
Kerja
”Pak, Bu, ini jadwal B selama di rumah sakit. Coba perhatikan! Apakah kira-kira dapat dilaksanakan semua dirumah? Jangan lupa memperhatikan B, agar ia tetap menjalankan dirumah, dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri), B (bantuan), T (tidak melaksanakan).”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak dan Ibu dirumah. Jika, misalnya B mengaku sebagai seorang nabi terus-menerus dan tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat, atau memperlihatkan perilakju membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi suster E di Puskesmas Permata Indah, puskesmas terdekat dari rumah Ibu dan Bapak, ini nomor telepon puskesmasnya (0321) 456789.”
”Selanjutnya suster E yang akan membantu memantau perkembangan B selama di rumah.”
Terminasi
”Apa yang ingin Bapak/Ibu tanyakan? Bagaimana perasaan Bapak/Ibu? Sudah siap melanjutkan dirumah?”
”Ini jadwal kegiatan hariannya. Ini rujukan untuk suster E di PKM Permata Indah. Jika ada apa/apa boleh juga menghubungi kami. Silahkan menyelesaikan administrasi di kantor depan.”
3.3.3 Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
TAK yang dapat dilakukan untuk pasien waham meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)TAK orientasi realitas
1. Sesi 1: Pengenalan orang
2. Sesi 2: Pengenalan tempat
3. Sesi 3: Pengenalan waktu
b) TAK sosialisasi
1. Sesi 1: Kemampuan memperkenalkan diri
2. Sesi 2: Kemampuan berkenalan
3. Sesi 3: Kemampuan berbicara
4. Sesi 4: Kemampuan berbicara topik tertentu
5. Sesi 5: Kemampuan berbicara masalah pribadi
6. Sesi 6: Kemampuan bekerjasama
7. Sesi 7: Evaluasi kemampuan sosialisasi
3.4 Evaluasi Keperawatan
Selanjutnya, setelah dilakukan tindakan keperawatan, evaluasi dilakukan terhadap kemampuan pasien waham dan keluarganya. Serta kemampuan perawat dalam merawat pasien waham.
Dibawah ini merupakan format untuk evaluasi kemampuan pasien waham dan keluarganya serta kemampuan perawat dalam merawat pasien waham.
Evaluasi Kemampuan Pasien Waham dan Keluarganya
Nama Pasien : ................
Ruangan : ................
Nama perawat : ................
Petunjuk:
Berilah tanda cheklist (√) jika pasien mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervisi
No
Kemampuan
Tanggal


A
Pasien

1
Berkomunikasi sesuai dengan kenyataan

2
Menyebutkan cara memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi

3
Mempraktikkan cara memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi

4
Menyebutkan kemampuan positif yang dimiliki

5
Mempraktikkan kemampuan positif yang dimiliki

6
Menyebutkan jenis, jadwal, dan waktu minum obat

7
Melakukan jadwal aktivitas dan minum obat sehari-hari

B
Keluarga

1
Menyebutkan pengertian waham dan proses terjadinya waham
2
Menyebutkan cara merawat pasien waham
3
Mempraktikkan cara merawat pasien waham
4
Membuat jadwal aktivitas dan minum obat pasien di rumah (perencanaan pulang)


Evaluasi Kemampuan Perawat dalam Merawat Pasien Waham
Nama Pasien : ................
Ruangan : ................
Nama perawat : ................
Petunjuk
a. Berilah tanda cheklist (√) pada tiap kemampuan yang ditampilkan
b. Evaluasi tindakan keperawatan untuk setiap SP yang dilakukan, menggunakan instrumen evaluasi penampilan klinik perawat MPKP
c. Masukkan nilai tiap Evaluasi Penampilan Klinik Perawat MPKP ke dalam baris nilai SP.
No
Kemampuan
Tanggal
A
Pasien
SP1 Pasien
1
Membantu orientasi realita
2
Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
3
Membantu pasien memenuhi kebutuhannya
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Nilai SP1 Pasien
SP2 Pasien
1
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2
Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
3
Melatih kemampuan yang dimiliki
Nilai SP2 Pasien
SP3 Pasien
1
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2
Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
3
Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Nilai SP3 Pasien
B
Keluarga
SP1 Keluarga
1
Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2
Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala waham, dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya
No.
Kemampuan
Tanggal
3
Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham
Nilai SP1 Keluarga
SP2 Keluarga
1
Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien waham
2
Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung pada pasien waham
Nilai SP2 Keluarga
SP3 Keluarga
1
Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (perencanaan pulang)
2
Menjelaskan tindak lanjut pasien setelah pulang
Nilai SP3 Keluarga
Total nilai: SP Pasien + SP Keluarga
Rata-rata

No comments:

Post a Comment

Post a Comment